Sabtu, 09 Januari 2021

SKI IX MTs

 

TRADISI

Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah.

 Tradisi atau kebiasaan (Latintraditio, "diteruskan") adalah sebuah bentuk perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dengan cara yang sama. Hal ini juga menunjukkan bahwa orang tersebut menyukai perbuatan itu.[1] Jika kebiasaan sudah diterima oleh masyarakat dan dilakukan secara berulang, maka segala tindakan yang bertentangan dengan kebiasaan akan dirasakan sebagai perbuatan yang melanggar hukum.[2]

Macam –macam tradisi islam

1.    Tradisi Halal Bihalal. Halal bihalal dilakukan pada Bulan Syawal, berupa acara saling bermaaf-maafan. Setelah umat Islam selesai puasa ramadhan sebulan penuh maka dosa-dosanya telah diampuni oleh Allah Swt.

2.    Tradisi Tabot atau Tabuik. Tabuik, adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang kisah kepahlawanan dan kematian Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad saw. Kedua cucu Rasulullah saw. ini gugur dalam peperangan di Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).

3.    Tradisi Kupatan (Bakdo Kupat) Di Pulau Jawa bahkan sudah berkembang ke daerah-daerah lain terdapat tradisi kupatan. Tradisi membuat kupat ini biasanya dilakukan seminggu setelah hari raya Idul Fitri.

4.    Tradisi Sekaten di Surakarta dan Yogyakarta. Tradisi Sekaten dilaksanakan setiap tahun di Keraton Surakarta Jawa Tengah dan Keraton Yogyakarta. Tradisi ini dilaksanakan dan dilestarikan sebagai wujud mengenang jasa-jasa para Walisongo yang telah berhasil menyebarkan Islam di tanah Jawa.

5.    Tradisi Grebeg. Tradisi untuk mengiringi para raja atau pembesar kerajaan. Grebeg pertama kali diselenggarakan oleh keraton Yogyakarta oleh Sultan Hamengkubuwono

6.    Tradisi Grebeg Besar di Demak Tradisi Grebeg Besar merupakan upacara tradisional yang setiap tahun dilaksanakan di Kabupaten Demak Jawa Tengah.

7.    Tradisi Kerobok Maulid di Kutai dan Pawai Obor di Manado.

8.    Tradisi Rabu Kasan di Bangka. Tradisi Rabu Kasan dilaksanakan di Kabupaten Bangka

9.    Tradisi Dugderan di Semarang. Tradisi dugderan merupakan tradisi khas yang dilakukan oleh masyarakat Semarang, Jawa Tengah. Tradisi Dugderan dilakukan untuk menyambut datangnya bulan puasa.

10.  Tradisi atau Budaya Tumpeng. Tumpeng adalah cara penyajian nasi beserta lauk-pauknya dalam bentuk kerucut. kunjung.

Ulangan harian SKI IX MTs

Jumat, 08 Januari 2021

Aqidah Akhlaq XII MA

                                                                         Sikap terpuji


 

Ciri fastabikhul khoirot

a.       Memiliki niat yang ikhlas. Manusia mengerjakan suatu hal pasti dibarengi dengan niat. Apabila niat pekerjaannya baik, maka ia akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, kita seyogyanya menata niat ketika hendak berlomba-lomba dalam kebaikan. Contohnya adalah berkompetisi pidato dengan niat dipandang istimewa oleh orang lain. Jika memenangkan kompetisi terebut, ia hanya mendapatkan citra istimewa di mata orang lain. Lain halnya berkompetisi pidato dengan niat menyebarkan ajaran dengan lawan bicara yang bermacam-macam. Kalah atau pun menang tidak menjadi prioritas baginya. Sesuatu yang dipikirkannya hanyalah mengembangkan potensi berdakwah dan mengetahui objek dakwahnya.

 

b.      Antusias pada kebaikan. Seorang yang dengan terbiasa dan senang hati melakukan kebaikan akan terus menyebarkan kebaikan. Bahkan tanpa adanya perintah pun, ia tetap menyebarkan kebaikan.

 

c.       Tidak merasa cepat puas. Merasa cepat puas merupakan perasaan yang harus dihindari. Perasaan ini menjadikan semangat dalam berbuat baik menurun. Merasa cepat puas akan menyebabkan seseorang mengunggulkan masa lalunya dan tidak mencoba mendapatkan hasil lebih baik lagi. Merasa cepat puas berbeda dengan bersyukur. Bersyukur berarti berterima kasih atas hasil yang telah didapatkan dan tetap berusaha lebih giat untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

 

2.     Makna Semangat Berlomba-Lomba dalam Kebaikan

 

Agama Islam menganjurkan kita untuk selalu berlomba dalam kebaikan. Agama Islam tidak mengajarkan umat untuk berleha-leha, melainkan untuk menjadi umat terdepan dalam melakukan kebaikan. Maka, begitu seseorang mengaku sebagai hamba Allah, ia harus segera berusaha melakukan kebaikan sebisa mungkin.

Islam juga memberikan motivasi untuk mengedepankan berbuat kebaikan. Beberapa motivasi yang dapat mendorong seseorang berbuat baik adalah sebagai berikut

a. Setiap muslim diperintahkan untuk berbuat baik dan menebarkan kebaikan.

Kata fastabiqū merupakan kata perintah untuk orang banyak. Kata tersebut memiliki arti segerakanlah kalian semua. Maknaya kita diperintahkan untuk bersegera dalam mencapai tujuan tertentu. Rasulullah Saw. bersabda:

Bersegeralah kamu sekalian untuk melakukan amal-amal yang shalih, karena akan terjadi suatu bencana yang menyerupai malam yang gelap gulita dimana ada seseorang pada waktu pagi ia beriman tapi pada waktu sore ia kafir, pada waktu sore ia beriman tapi pada waktu pagi ia kafir, ia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan dunia”. (H.R. Muslim)

 

b. Manusia memiliki usia yang terbatas

Manusia adalah salah satu ciptaan Allah yang diberi kehidupan sementara oleh-Nya. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ia akan meninggal dunia. Dengan umur yang tak bisa dikira-kira ini, kita hendaknya tidak menunda-nunda dalam melakukan kebaikan. Atau jika tidak, sikap menunda-nunda itu akan

 

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu ; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (QS. al-A’rāf [7]: 34)

 

c.                 Begitu banyak balasan bagi orang-orang yang turut berkompetisi dalam kebaikan Berkompetisi dalam kebaikan merupakan sikap positif yang harus dimiliki

 

oleh manusia. Benar-benar rugi bagi seseorang yang meninggalkan sikap ini. Apalagi dengan alasan malas atau lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain. Sikap berkompetisi dalam kebaikan akan memperoleh balasan dari Allah berupa, 1) Allah akan bersama dengan orang-orang yang berbuat baik. Lihat QS. an-Naḥl [16]: 128; 2) Dijanjikan ridha Allah dan rasul-Nya serta kesenangan di akhirat. Lihat QS. al-Ahzāb [33]: 29; 3) Allah akan mencintainya. Lihat QS. Ali ‘Imran [3]: 134; 4) Memperoleh rahmat Allah. Lihat QS. al-A’rāf [7]: 56; 5) Memperoleh pahala. Lihat QS. at-Taubah [9]: 120; 6) Dimasukkan kedalam surga. Lihat QS. al-Mā`idah [5]: 85.


Absensi Kelas XIIC MA



Aqidah Akhlaq XIMA

                                                                                        Tasawuf

 


Makna tasawuf secara bahasa berasal dari kata al-shuffah atau orang yang ikut pindah dengan Nabi dari Makkah ke Madinah. suf (barisan), suf (kain wol), hingga ke bahasa Yunani sophos (hikmat).

Ilmu tasawuf adalah salah satu cabang dari ilmu-ilmu Islam utama, yaitu ilmu tauhid (ushuluddin), ilmu fiqih dan  ilmu tasawuf. Ilmu tauhid untuk bertugas membahas soal-soal i’tiqad, seperti i’tiqad mengenai keTuhanan, kerasulan, hari akhirat dan lain-lain sebagainya.

Ilmu fiqih bertugas membahas soal-soal ibadah lahir, seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain. Ilmu tasawuf bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan akhlak dan budi pekerti, bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyuk, tawadhu, muraqabah, mujahadah, sabar, ridha, tawakal dan lain-lain. Ringkasnya, tauhid takluk kepada i’tiqad, fiqih takluk kepada ibadah, dan tasawuf takluk kepada akhlak.

Kepada setiap orang Islam dianjurkan supaya beri’tiqad sebagaimana yang diatur dalam ilmu tauhid (ushuluddin), supaya beribadah sebagaimana yang diatur dalam ilmu fiqih dan supaya berakhlak sesuai dengan ilmu tasawuf.

Agama kita meliputi 3 (tiga) unsur terpenting yaitu, Islam, Iman dan Ihsan.
Tentang Islam kita dapat temukan dalam ilmu fiqih, sasarannya syariat lahir. Umpamanya shalat, puasa, zakat, naik haji, perdagangan, perkawinan, peradilan, peperangan, perdamaian dan lainnya.
Tentang iman kita dapat temukan dalam ilmu tauhid (ushuluddin), sasarannya  i’tiqad (akidah/kepercayaan). Umpamanya bagaimana kita (keyakinan dalam hati) terhadap Tuhan, malaikat-malaikat, rasul-rasul, kitab-kitab suci, kampung akhirat, hari kebangkitan, surga, neraka, qadha dan qadhar (takdir).
Tentang ihsan kita dapat temukan dalam ilmu tasawuf. Sasarannya akhlak, budi pekerti, batin yang bersih, bagaimana menghadapi Tuhan, bagaimana muraqabah dengan Tuhan, bagaimana membuang kotoran yang melengket dalam hati yang mendinding (hijab) kita dengan Tuhan, bagaimana takhalli, tahalli dan tajalli. Inilah yang dinamakan sekarang dengan tasawuf.

Ilmu tasawuf itu tidak bertentangan dengan Alquran dan sunnah Nabi dan bahkan Alquran dan Sunnah Nabi itulah yang menjadi sumbernya. Andaikata ada kelihatan orang-orang tasawuf yang menyalahi syariat, umpamanya ia tidak shalat, tidak shalat Jumat ke masjid atau shalat tidak berpakaian, makan siang hari pada bulan puasa, maka itu bukanlah orang tasawuf dan jangan kita dengarkan ocehannya.

Imam Abu Yazid Al-Busthami berkata, "Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syariat."
Syekh Abu Al-Hasan Asy-Syadzili berujar, "Jika pendapat atau temuanmu bertentangan dengan Alquran dan hadits, maka tetaplah berpegang dengan hal-hal yang ada pada Alquran dan hadits. Dengan demikian engkau tidak akan menerima resiko dalam penemuanmu, sebab dalam masalah seperti itu tidak ada ilham atau musyahadah, kecuali setelah bersesuaian dengan Alquran dan hadits."
Jadi syarat untuk mendalami ilmu tasawuf (tentang ihsan) terlebih dahulu harus mengetahui ilmu fiqih (tentang Islam) dan ilmu tauhid/ushuluddin (tentang Iman).
Dengan ketiga ilmu itu kita mengharapkan meningkat derajat/kualitas ketakwaan kita.

Mulai sebagai Muslim menjadi mukmin dan kemudian muhsin atau yang kita ketahui sebagai implementasi Islam, Iman dan Ihsan. Orang-orang yang paham dan mengamalkan
 ilmu tasawuf dikenal dengan orang sufi

presensi kehadiran tolong klik link di bawah ini 

Rabu, 06 Januari 2021

SKI XII MA

Assalamualaikum wr wb 
Anak-anak kelas untuk pembelajaran daring hari ini tolong buka LKS SKI materi bab 7 kemudian kerjakan uji kompetensi 1 Romawi B hal 15 kemudian kirim WA ke no Saya. Makasih selamat mengerjakan



SLAM DI AFRIKA


Islam telah mulai dikenal di Afrika pada awal masa berkembangnya, yaitu pada peristiwa hijrah pertama ke Habsyah (Abisinia).[1] Menurut kepercayaan umat Islam, raja Ashamah bin Abjar dan beberapa pengawalnya memeluk agama Islam, setelah mendapatkan keterangan dari para Sahabat Nabi yang hijrah tersebut.Pada saat ini, Islam merupakan salah satu agama terbesar di Afrika, dengan jumlah penganut kira-kira sebanyak 460 juta jiwa (Friedenthal, 2014).[3] Dari jumlah tersebut, sekitar setengahnya tinggal di wilayah Arab Maghribi di Afrika Utara, yaitu di negara-negara MesirLibyaTunisiaAljazairMaroko, dan wilayah Sahara Barat.[3] Komunitas kaum Muslim juga dapat ditemukan tersebar di setiap negara di kawasan Afrika Sub-Sahara.[3] Jumlah penganut Islam diperkirakan masih terus berkembang dengan pesat di Afrika, baik karena aktivitas dakwah maupun pertumbuhan penduduk yang tinggi di komunitas mereka. Agama Islam tersebar secara berkelanjutan di Afrika pada masa Kekhalifahan Rasyidin, dan masuk melalui wilayah-wilayah MesirNubiaEthiopia, serta Afrika Utara lainnya.[4] Pada awal masuknya Islam di Mesir, penduduk Koptik memberikan dukungan karena pasukan Muslim membebaskan mereka dari tekanan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium).[4] Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, para panglima Amru bin Ash dan Uqbah bin Nafi memimpin pasukan Muslim hingga Libya, yaitu pada sekitar tahun 21 H.[5] Selanjutnya pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, para panglima Abdullah bin Abi Sarh dan Abdullah bin Zubair melanjutkan hingga ke Tunisia, dengan mengalahkan pasukan Bizantium (25 H) dan Berber (33 H).[5]

Pada masa Kekhalifahan Umayyah, terjadi beberapa kali pemberontakan Berber di wilayah Afrika Utara, yang berhasil dipadamkan antara lain oleh para panglima Muawiyyah bin Hudaij, Uqbah bin Nafi, Abu Muhajir bin DinarZuhair bin QaisHasan bin Nu'manMusa bin Nusair, dan Thariq bin Ziyad.[5]

Penyebaran Islam kemudian tersebar lebih jauh lagi dengan melintasi Gurun Sahara, terutama oleh kaum Murabithun yang pada abad ke-11 menaklukkan MarokoGhana, dan daerah-daerah lainnya.[4] Selanjutnya kaum Muwahiddun melanjutkan ke Afrika Barat dan Afrika Tengah sampai pada 541 H.[5] Setelah itu timbullah kerajaan-kerajaan Islam yang didirikan oleh suku-suku penduduk asli pedalaman Afrika di Mali, Chad, Sudan, Nubia, Somalia, Zanzibar, Malawi, Kongo, dan Mozambik yang terus melanjutkan penyebaran agama Islam melalui dakwah dan pedagangan pada abad-abad selanjutnya.[5]

Kerajaan dan kesultanan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini daftar beberapa kerajaan, kekaisaran, dinasti, kesultanan, keimaman, keamiran, atau negara Islam terkenal yang pernah berkuasa di Afrika:

Islam telah mulai dikenal di Afrika pada awal masa berkembangnya, yaitu pada peristiwa hijrah pertama ke Habsyah (Abisinia).[1] Menurut kepercayaan umat Islam, raja Ashamah bin Abjar dan beberapa pengawalnya memeluk agama Islam, setelah mendapatkan keterangan dari para Sahabat Nabi yang hijrah tersebut.[1][2]

Pada saat ini, Islam merupakan salah satu agama terbesar di Afrika, dengan jumlah penganut kira-kira sebanyak 460 juta jiwa (Friedenthal, 2014).[3] Dari jumlah tersebut, sekitar setengahnya tinggal di wilayah Arab Maghribi di Afrika Utara, yaitu di negara-negara MesirLibyaTunisiaAljazairMaroko, dan wilayah Sahara Barat.[3] Komunitas kaum Muslim juga dapat ditemukan tersebar di setiap negara di kawasan Afrika Sub-Sahara.[3] Jumlah penganut Islam diperkirakan masih terus berkembang dengan pesat di Afrika, baik karena aktivitas dakwah maupun pertumbuhan penduduk yang tinggi di komunitas mereka.[3]

Agama Islam tersebar secara berkelanjutan di Afrika pada masa Kekhalifahan Rasyidin, dan masuk melalui wilayah-wilayah MesirNubiaEthiopia, serta Afrika Utara lainnya.[4] Pada awal masuknya Islam di Mesir, penduduk Koptik memberikan dukungan karena pasukan Muslim membebaskan mereka dari tekanan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium).[4] Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, para panglima Amru bin Ash dan Uqbah bin Nafi memimpin pasukan Muslim hingga Libya, yaitu pada sekitar tahun 21 H.[5] Selanjutnya pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, para panglima Abdullah bin Abi Sarh dan Abdullah bin Zubair melanjutkan hingga ke Tunisia, dengan mengalahkan pasukan Bizantium (25 H) dan Berber (33 H)

Pada masa Kekhalifahan Umayyah, terjadi beberapa kali pemberontakan Berber di wilayah Afrika Utara, yang berhasil dipadamkan antara lain oleh para panglima Muawiyyah bin Hudaij, Uqbah bin Nafi, Abu Muhajir bin DinarZuhair bin QaisHasan bin Nu'manMusa bin Nusair, dan Thariq bin Ziyad.

Penyebaran Islam kemudian tersebar lebih jauh lagi dengan melintasi Gurun Sahara, terutama oleh kaum Murabithun yang pada abad ke-11 menaklukkan MarokoGhana, dan daerah-daerah lainnya.[4] Selanjutnya kaum Muwahiddun melanjutkan ke Afrika Barat dan Afrika Tengah sampai pada 541 H.[5] Setelah itu timbullah kerajaan-kerajaan Islam yang didirikan oleh suku-suku penduduk asli pedalaman Afrika di Mali, Chad, Sudan, Nubia, Somalia, Zanzibar, Malawi, Kongo, dan Mozambik yang terus melanjutkan penyebaran agama Islam melalui dakwah dan pedagangan pada abad-abad selanjutnya.[5]

SKI XIMA

                                                             KEMUNDURAN DUNIA ISLAM 



A.     Kejayaan Umat Islam

Istana Al-Hamra di Spanyol merupakan salah satu bukti dari kejayaan Islam di Andalusia (Spanyol). Di India terdapat Taj Mahal yang kemudian menjadi ikon budaya di India juga merupakan peninggalan dari Daulah Islam. Sebagian wilayah Eropa, Afrika dan Asia pernah merasakan kemakmuran yang dicapai pemerintahan Islam. Islam berhasil menanamkan nilai-nilai syariat dalam setiap sendi kehidupan manusia bahkan sendi-sendi pemerintahan.

Ada sebagian yang menjadikan Islam sebagai agama mayoritas dengan dasar- dasar syariat Islam. Sebaliknya, ada satu kawasan yang dulunya imperium Islam pernah demikian besar dan kuat mengakar, tapi hilang tidak tersisa pengaruhnya dalam masyarakat, apalagi negaranya. Wilayah itu adalah Andalusia, yang terletak di Semenanjung Iberia. Andalusia yang dulu sekarang kita kenal sebagai negara Spanyol.

Semangat jihad ummat Islam yang begitu tinggi sehingga 200 ribu pasukan Gotik tidak mampu mengalahkan pasukan Islam yang dipimpin Thariq Bin Ziyad yang hanya berjumlah 5 ribu orang. Bukannya tentara Islam yang kalah, justru pasukan Gotik yang mundur akibat strategi Thariq Bin Ziyad dan pasukannya.

Dalam bidang ilmu pengetahuan dan sains Ibnu Sina (Avicenna) telah menunjukkan kepada dunia tentang betapa hebatnya ilmuwan muslim pada saat itu. Ibnu Sina dikenal sebagai bapak Kedokteran dunia.

Ilmuwan Islam Al-Khawarizmi juga mengembangkan ilmu Matematika seperti Aljabar (Algebra), Algoritma (Algorithm) yang kita kenal hingga sekarang. Angka-angka yang kita pakai sekarang merupakan hasil penemuan ilmuwan Islam yang disebut dengan ”arabic numeral” menggantikan sistem bilangan Romawi yang sangat tidak fleksibel. Pada saat munculnya Islam, bangsa Barat belum mengenal angka 0 (Nol), Islamlah yang mengenalkan angka itu pada mereka.

 

B.     Kemunduran Kerajaan Besar

Kemunduran Islam tidak lepas dari runtuhnya kerajaan-kerajaan Islam besar di Jazirah Arab. Di antara gambarannya adalah kejayaan yang diraih oleh Daulah Abbasiyah yang kemudian menuai kemunduran sampai dengan keruntuhannya.

Runtuhnya Daulah Abbasiyah bukan tanpa sebab. Setelah Daulah Abbasiyah berhasil membumikan kejayaan dan keemasannya dalam berbagai bidang peradaban dan

ilmu pengetahuan akhirnya runtuh juga. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi runtuhnya Daulah Abbasiyah.

1.          Faktor Internal.

Perebutan Kekuasaan di pusat pemerintahan yang terjadi antara penerus Daulah Abbasiyah tidak terbendung. Bagi sebagian orang Arab, mereka masih belum bisa melupakan pengaruh Daulah Umayyah karena pada masa daulah tersebut, hampir semua penguasa berasal dari bangsa Arab. Namun bagi kalangan non Arab (`Ajam) mereka juga menginginkan kekuasaan Daulah Abbasiyah dipegang oleh keturunan mereka. Demikian halnya orang-orang Persia, mereka menginginkan sebuah daulah dengan pemimpin yang berasal dari kalangan mereka.

Fanatisme kebangsan ini rupanya menjadi salah satu pemicu perpecahan di dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah sehingga memunculkan sentimen tertentu dikalangan bangsa-bangsa non Arab. Perselisihan yang semakin meruncing tersebut kemudian berbuntut terhadap perebutan kekuasaan dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah.

Daulah Abbasiyah merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Baitul-Mal penuh dengan harta. Perekonomian masyarakat sangat maju terutama dalam bidang pertanian, perdagangan dan industri.

Ketika memasuki masa kemunduran politik, perekonomian pun ikut mengalami kemunduran yang drastis sehingga krisis ekonomi merusak tatanan ekonomi pada masa itu. Kecenderungan para penguasa untuk hidup mewah, mencolok dan berfoya-foya kemudian diikuti oleh para hartawan dan anak-anak pejabat ikut menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin.

Munculnya daulah-daulah kecil yang memerdekakan diri merupakan faktor yang paling sering muncul dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah. Kedudukan khalifah yang tidak cukup kuat membuat para penguasa dan pelaksana pemerintahan memiliki kepercayaan yang rapuh terhadap pemerintah pusat.

Dominasi bangsa Turki dan Persia yang ingin memerdekakaan diri menjadi pemicu perpecahan dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah. Hal ini juga berakibat terhadap bangsa-bangsa lain yang jauh dari pusat pemerintahan Daulah Abbasiyah berusaha memisahkan diri dari kekuasaan Baghdad.

 

2.          Faktor External

Perang Salib yang terjadi antara umat Islam dan Kristiani telah menanamkan benih-benih permusuhan yang kuat antara umat Islam dan Kristen. Kebencian itu semakin kuat setelah peraturan baru yang diterapkan oleh Daulah Bani Saljuk menyulitkan orang-orang Kristen yang berkunjung ke Baitul Maqdis. Perang Salib terjadi dalam beberapa gelombang dan banyak memakan korban dari pihak Islam dan Kristen. Dampak dari perang salib tersebut, beberapa wilayah kekuasaan Islam berhasil dikuasai oleh tentara Kristen.

Serangan bergelombang Bangsa Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan telah meluluhlantakkan Baghdad dan seluruh penjuru wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyah. Tragedi kemanusian berupa penganiayaan dan penyiksaan berlangsung kurang lebih 40 hari dengan jumlah korban yang mencapai ratusan ribu umat Islam pada waktu itu. Terbunuhnya Khalifah Al-Mu`tashim menjadi penanda akhir dari Daulah Abbasiyah.

Runtuhnya kekuasaan Islam tidak hanya dialami oleh Daulah Abbasiyah. Di belahan bumi yang lain juga mengalami peristiwa yang hampir sama. Daulah Bani Ahmar di Andalusia juga berakhir dengan tragis. Khalifah terakhir diusir dari Andalusia, bahkan seluruh umat Islam di Andalusia dipaksa meninggalkan Andalusia atau tetap di Andalusia namun berpindah keyakinan.

Daulah Mughal di India juga mengalami hal serupa. Rapuhnya kondisi dalam negeri Daulah Mughal membuka kesempatan Imperium Inggris berhasil masuk dan meruntuhkan kejayaan Mughal dan kemudian menguasainya. Penjajahan ini kemudian berlangsung sampai negara India berhasil memerdekakan diri.

Dari bebepa pelajaran di atas, Syekh Amir Syakib Arselan mengungkap beberapa alasan mengapa umat Islam mundur dan sulit untuk maju.

1.          Umat Islam sudah tidak benar-benar mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan syari`at, khususnya Alquran dan al-Hadis. Padahal itu adalah sumber pedoman hidup kita agar bahagia dunia dan akhirat. Nabi SAW bersabda: “Aku tinggalkan bagimu dua perkara, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu kitab Allah dan Sunnah Rasul (hadis).

2.          Umat Islam tidak mau bersatu dan terpecah belah. Padahal ummat Islam diperintahkan untuk bersatu. Allah sudah mengingatkan kepada kita . QS. Ali Imran

: 103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu

(masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni'mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

3.          Mayoritas umat Islam terlalu cinta dunia dan takut mati. Kebanyakan umat Islam lebih mementingkan kehidupan dunia dan melupakan akherat. Padahal jelas-jelas kehidupan dunia ini hanya fatamorgana dan telah dicontohkan oleh generasi pendahulu Islam mereka ikhlas betul dalam menjalankan misi sebagai hamba Allah Swt tanpa melupakan kewajibannya untuk beribadah kepada Allah Swt.

4.          Mundurnya umat Islam disebabkan hilangnya semangat Jihad. Jihad adalah satu kesungguhan untuk berjuang di jalan Allah Swt. Jihad adalah perjuangan yang sungguh-sungguh yang dilakukan karena panggilan Illahi, yaitu perjuangan sungguh-sungguh dengan mengerahkan segala potensi dan kemampuan yang dimiliki untuk mencapai tujuan, khususnya dalam mempertahankan kebenaran, kebaikan dan keluhuran.

 

C.     Penjajahan Bangsa Barat Atas Dunia Islam

Kebangkitan bangsa Barat bemula dari semangat keilmuan yang begitu tinggi, telah membawa bangsa Barat pada penemuan-penemuan baru dan banyak melakukan penjelajahan samudera, serta revolusi industri hingga berakibat pada imperialisme terhadap bangsa-bangsa Islam pada khususnya.

Perjalanan bangsa Barat ke Timur Tengah dimulai ketika Daulah Usmani mengalami kemunduran sementara bangsa-bangsa Barat mulai mengalami kemajuan di segala bidang, seperti perdagangan, ekonomi, industri perang dan teknologi militer. Meskipun demikian, nama besar Turki Usmani masih disegani oleh Eropa sehingga mereka tidak melakukan penyerangan ke wilayah-wilayah kekuasaan kerajaan Islam. Namun, kekalahan besar Kerajaan Usmani dalam menghadapi serangan bangsa Eropa di Wina tahun 1683 M membangkitkan kesadaran bangsa Barat bahwa Turki Usmani telah melakukan perubahan-perubahan

Ekspedisi Inggris, Portugis, Belanda, dan Spanyol dari abad ke 15 sampai 19 M di kawasan perdagangan internasional Malaka, Gujarat, dan lainnya, telah membuka mata mereka terhadap bangsa-bangsa Islam.

Misi politik untuk menguasai negara-negara Islam digalakkan dengan devide et impera (politik pecah belah), yaitu penjajah dengan segala cara menciptakan pemisah antara kaum bangsawan dan rakyat kecil. Demikian halnya antara satu penguasa dan penguasa negara Islam yang lain.

Setelah bangsa Barat menguasai ekonomi dan politik negara-negara Islam, terdapat pula negara Barat yang menjajah dunia Islam dengan melakukan penyebaran agama Kristen melalui missionaris atau zending.

Bangsa Barat yang memiliki ketiga motivasi ini adalah Spanyol dan Portugis. Hal terebut tercermin pada semboyan mereka, yaitu Gold (semangat untuk mencari keuntungan), Glory (Semangat untuk mencapai kejayaan dalam bidang kekuasaan), dan Gospel (semangat untuk menyebarkan agama Kristen di negara Islam yang dijajah).

Imperialisme bangsa Barat telah berdampak luas kepada hampir seluruh negara- negara muslim. Negara-negara Islam yang pertama kali dikuasai oleh Barat adalah negara-negara Islam di Asia Tenggara dan di Anak Benua India. Sedangkan negara- negara Islam di Timur Tengah, yang masih berada di bawah kekuasaan kerajaan  Usmani, baru berhasil ditaklukkan pada masa berikutnya.

Dengan persenjataan yang lebih modern, bangsa Eropa mampu menguasai daerah-daerah kekuasaan Islam. Bangsa-bangsa Eropa menjajah satu demi satu negara Islam.

Perancis menduduki Aljazair pada tahun 1830, dan merebut Aden dari Inggris pada tahun 1839. Tunisia ditaklukkan Perancis pada tahun 1881, Mesir dijajah oleh Inggris (1882 M), Sudan dijajah oleh Inggris pada tahun 1889, Maroko dijajah oleh Perancis tahun 1911 M, Libya dijajah oleh Italia tahun 1911 M. Sementara itu, wilayah Islam di Asia Tengah juga tak luput dari penjajahan Barat.

Wilayah Jazirah Arab juga tidak luput dari sasaran penjajahan. Suriah dan Lebanon juga pernah dikuasai oleh Perancis (1918 M), Palestina dan Yordania juga pernah dikuasai oleh Inggris. Di belahan belahan bumi lainnya, Rusia menjajah wilayah Islam di Asia Tengah, seperti Kaukasia (1834-1859), Samarkand dan Bukhara (1866- 1872), dan Uzbekistan (1873-1887). Hal tersebut merupakan imbas dari Perjanjian San Stefano dan perjanjian Berlin antara Rusia dan Turki Usmani.

Demikianlah, Islam mengalami krisis berkepanjangan, ditambah rongrongan bangsa-bangsa kapitalis yang merusak seluruh tatanan politik, ekonomi, sosial dan budaya hingga moralitas bangsa-bangsa Islam. Hal ini tentunya berdampak terhadap kebudayaan dan perabadan bangsa-bangsa Islam yang telah dibangun dengan susah

payah penuh perjuangan. Dinamika keislaman menjadi mati suri di bawah pengaruh imperialisme bangsa Barat.

 Absensi Kelas XIMA


Soal Tryout UAMNUBK MA

 soal aqidah  Soal Try out Aqidah Akhlak UAMNUBK MA