Rabu, 06 Januari 2021

SKI XII MA

Assalamualaikum wr wb 
Anak-anak kelas untuk pembelajaran daring hari ini tolong buka LKS SKI materi bab 7 kemudian kerjakan uji kompetensi 1 Romawi B hal 15 kemudian kirim WA ke no Saya. Makasih selamat mengerjakan



SLAM DI AFRIKA


Islam telah mulai dikenal di Afrika pada awal masa berkembangnya, yaitu pada peristiwa hijrah pertama ke Habsyah (Abisinia).[1] Menurut kepercayaan umat Islam, raja Ashamah bin Abjar dan beberapa pengawalnya memeluk agama Islam, setelah mendapatkan keterangan dari para Sahabat Nabi yang hijrah tersebut.Pada saat ini, Islam merupakan salah satu agama terbesar di Afrika, dengan jumlah penganut kira-kira sebanyak 460 juta jiwa (Friedenthal, 2014).[3] Dari jumlah tersebut, sekitar setengahnya tinggal di wilayah Arab Maghribi di Afrika Utara, yaitu di negara-negara MesirLibyaTunisiaAljazairMaroko, dan wilayah Sahara Barat.[3] Komunitas kaum Muslim juga dapat ditemukan tersebar di setiap negara di kawasan Afrika Sub-Sahara.[3] Jumlah penganut Islam diperkirakan masih terus berkembang dengan pesat di Afrika, baik karena aktivitas dakwah maupun pertumbuhan penduduk yang tinggi di komunitas mereka. Agama Islam tersebar secara berkelanjutan di Afrika pada masa Kekhalifahan Rasyidin, dan masuk melalui wilayah-wilayah MesirNubiaEthiopia, serta Afrika Utara lainnya.[4] Pada awal masuknya Islam di Mesir, penduduk Koptik memberikan dukungan karena pasukan Muslim membebaskan mereka dari tekanan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium).[4] Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, para panglima Amru bin Ash dan Uqbah bin Nafi memimpin pasukan Muslim hingga Libya, yaitu pada sekitar tahun 21 H.[5] Selanjutnya pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, para panglima Abdullah bin Abi Sarh dan Abdullah bin Zubair melanjutkan hingga ke Tunisia, dengan mengalahkan pasukan Bizantium (25 H) dan Berber (33 H).[5]

Pada masa Kekhalifahan Umayyah, terjadi beberapa kali pemberontakan Berber di wilayah Afrika Utara, yang berhasil dipadamkan antara lain oleh para panglima Muawiyyah bin Hudaij, Uqbah bin Nafi, Abu Muhajir bin DinarZuhair bin QaisHasan bin Nu'manMusa bin Nusair, dan Thariq bin Ziyad.[5]

Penyebaran Islam kemudian tersebar lebih jauh lagi dengan melintasi Gurun Sahara, terutama oleh kaum Murabithun yang pada abad ke-11 menaklukkan MarokoGhana, dan daerah-daerah lainnya.[4] Selanjutnya kaum Muwahiddun melanjutkan ke Afrika Barat dan Afrika Tengah sampai pada 541 H.[5] Setelah itu timbullah kerajaan-kerajaan Islam yang didirikan oleh suku-suku penduduk asli pedalaman Afrika di Mali, Chad, Sudan, Nubia, Somalia, Zanzibar, Malawi, Kongo, dan Mozambik yang terus melanjutkan penyebaran agama Islam melalui dakwah dan pedagangan pada abad-abad selanjutnya.[5]

Kerajaan dan kesultanan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini daftar beberapa kerajaan, kekaisaran, dinasti, kesultanan, keimaman, keamiran, atau negara Islam terkenal yang pernah berkuasa di Afrika:

Islam telah mulai dikenal di Afrika pada awal masa berkembangnya, yaitu pada peristiwa hijrah pertama ke Habsyah (Abisinia).[1] Menurut kepercayaan umat Islam, raja Ashamah bin Abjar dan beberapa pengawalnya memeluk agama Islam, setelah mendapatkan keterangan dari para Sahabat Nabi yang hijrah tersebut.[1][2]

Pada saat ini, Islam merupakan salah satu agama terbesar di Afrika, dengan jumlah penganut kira-kira sebanyak 460 juta jiwa (Friedenthal, 2014).[3] Dari jumlah tersebut, sekitar setengahnya tinggal di wilayah Arab Maghribi di Afrika Utara, yaitu di negara-negara MesirLibyaTunisiaAljazairMaroko, dan wilayah Sahara Barat.[3] Komunitas kaum Muslim juga dapat ditemukan tersebar di setiap negara di kawasan Afrika Sub-Sahara.[3] Jumlah penganut Islam diperkirakan masih terus berkembang dengan pesat di Afrika, baik karena aktivitas dakwah maupun pertumbuhan penduduk yang tinggi di komunitas mereka.[3]

Agama Islam tersebar secara berkelanjutan di Afrika pada masa Kekhalifahan Rasyidin, dan masuk melalui wilayah-wilayah MesirNubiaEthiopia, serta Afrika Utara lainnya.[4] Pada awal masuknya Islam di Mesir, penduduk Koptik memberikan dukungan karena pasukan Muslim membebaskan mereka dari tekanan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium).[4] Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, para panglima Amru bin Ash dan Uqbah bin Nafi memimpin pasukan Muslim hingga Libya, yaitu pada sekitar tahun 21 H.[5] Selanjutnya pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, para panglima Abdullah bin Abi Sarh dan Abdullah bin Zubair melanjutkan hingga ke Tunisia, dengan mengalahkan pasukan Bizantium (25 H) dan Berber (33 H)

Pada masa Kekhalifahan Umayyah, terjadi beberapa kali pemberontakan Berber di wilayah Afrika Utara, yang berhasil dipadamkan antara lain oleh para panglima Muawiyyah bin Hudaij, Uqbah bin Nafi, Abu Muhajir bin DinarZuhair bin QaisHasan bin Nu'manMusa bin Nusair, dan Thariq bin Ziyad.

Penyebaran Islam kemudian tersebar lebih jauh lagi dengan melintasi Gurun Sahara, terutama oleh kaum Murabithun yang pada abad ke-11 menaklukkan MarokoGhana, dan daerah-daerah lainnya.[4] Selanjutnya kaum Muwahiddun melanjutkan ke Afrika Barat dan Afrika Tengah sampai pada 541 H.[5] Setelah itu timbullah kerajaan-kerajaan Islam yang didirikan oleh suku-suku penduduk asli pedalaman Afrika di Mali, Chad, Sudan, Nubia, Somalia, Zanzibar, Malawi, Kongo, dan Mozambik yang terus melanjutkan penyebaran agama Islam melalui dakwah dan pedagangan pada abad-abad selanjutnya.[5]

SKI XIMA

                                                             KEMUNDURAN DUNIA ISLAM 



A.     Kejayaan Umat Islam

Istana Al-Hamra di Spanyol merupakan salah satu bukti dari kejayaan Islam di Andalusia (Spanyol). Di India terdapat Taj Mahal yang kemudian menjadi ikon budaya di India juga merupakan peninggalan dari Daulah Islam. Sebagian wilayah Eropa, Afrika dan Asia pernah merasakan kemakmuran yang dicapai pemerintahan Islam. Islam berhasil menanamkan nilai-nilai syariat dalam setiap sendi kehidupan manusia bahkan sendi-sendi pemerintahan.

Ada sebagian yang menjadikan Islam sebagai agama mayoritas dengan dasar- dasar syariat Islam. Sebaliknya, ada satu kawasan yang dulunya imperium Islam pernah demikian besar dan kuat mengakar, tapi hilang tidak tersisa pengaruhnya dalam masyarakat, apalagi negaranya. Wilayah itu adalah Andalusia, yang terletak di Semenanjung Iberia. Andalusia yang dulu sekarang kita kenal sebagai negara Spanyol.

Semangat jihad ummat Islam yang begitu tinggi sehingga 200 ribu pasukan Gotik tidak mampu mengalahkan pasukan Islam yang dipimpin Thariq Bin Ziyad yang hanya berjumlah 5 ribu orang. Bukannya tentara Islam yang kalah, justru pasukan Gotik yang mundur akibat strategi Thariq Bin Ziyad dan pasukannya.

Dalam bidang ilmu pengetahuan dan sains Ibnu Sina (Avicenna) telah menunjukkan kepada dunia tentang betapa hebatnya ilmuwan muslim pada saat itu. Ibnu Sina dikenal sebagai bapak Kedokteran dunia.

Ilmuwan Islam Al-Khawarizmi juga mengembangkan ilmu Matematika seperti Aljabar (Algebra), Algoritma (Algorithm) yang kita kenal hingga sekarang. Angka-angka yang kita pakai sekarang merupakan hasil penemuan ilmuwan Islam yang disebut dengan ”arabic numeral” menggantikan sistem bilangan Romawi yang sangat tidak fleksibel. Pada saat munculnya Islam, bangsa Barat belum mengenal angka 0 (Nol), Islamlah yang mengenalkan angka itu pada mereka.

 

B.     Kemunduran Kerajaan Besar

Kemunduran Islam tidak lepas dari runtuhnya kerajaan-kerajaan Islam besar di Jazirah Arab. Di antara gambarannya adalah kejayaan yang diraih oleh Daulah Abbasiyah yang kemudian menuai kemunduran sampai dengan keruntuhannya.

Runtuhnya Daulah Abbasiyah bukan tanpa sebab. Setelah Daulah Abbasiyah berhasil membumikan kejayaan dan keemasannya dalam berbagai bidang peradaban dan

ilmu pengetahuan akhirnya runtuh juga. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi runtuhnya Daulah Abbasiyah.

1.          Faktor Internal.

Perebutan Kekuasaan di pusat pemerintahan yang terjadi antara penerus Daulah Abbasiyah tidak terbendung. Bagi sebagian orang Arab, mereka masih belum bisa melupakan pengaruh Daulah Umayyah karena pada masa daulah tersebut, hampir semua penguasa berasal dari bangsa Arab. Namun bagi kalangan non Arab (`Ajam) mereka juga menginginkan kekuasaan Daulah Abbasiyah dipegang oleh keturunan mereka. Demikian halnya orang-orang Persia, mereka menginginkan sebuah daulah dengan pemimpin yang berasal dari kalangan mereka.

Fanatisme kebangsan ini rupanya menjadi salah satu pemicu perpecahan di dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah sehingga memunculkan sentimen tertentu dikalangan bangsa-bangsa non Arab. Perselisihan yang semakin meruncing tersebut kemudian berbuntut terhadap perebutan kekuasaan dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah.

Daulah Abbasiyah merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Baitul-Mal penuh dengan harta. Perekonomian masyarakat sangat maju terutama dalam bidang pertanian, perdagangan dan industri.

Ketika memasuki masa kemunduran politik, perekonomian pun ikut mengalami kemunduran yang drastis sehingga krisis ekonomi merusak tatanan ekonomi pada masa itu. Kecenderungan para penguasa untuk hidup mewah, mencolok dan berfoya-foya kemudian diikuti oleh para hartawan dan anak-anak pejabat ikut menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin.

Munculnya daulah-daulah kecil yang memerdekakan diri merupakan faktor yang paling sering muncul dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah. Kedudukan khalifah yang tidak cukup kuat membuat para penguasa dan pelaksana pemerintahan memiliki kepercayaan yang rapuh terhadap pemerintah pusat.

Dominasi bangsa Turki dan Persia yang ingin memerdekakaan diri menjadi pemicu perpecahan dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah. Hal ini juga berakibat terhadap bangsa-bangsa lain yang jauh dari pusat pemerintahan Daulah Abbasiyah berusaha memisahkan diri dari kekuasaan Baghdad.

 

2.          Faktor External

Perang Salib yang terjadi antara umat Islam dan Kristiani telah menanamkan benih-benih permusuhan yang kuat antara umat Islam dan Kristen. Kebencian itu semakin kuat setelah peraturan baru yang diterapkan oleh Daulah Bani Saljuk menyulitkan orang-orang Kristen yang berkunjung ke Baitul Maqdis. Perang Salib terjadi dalam beberapa gelombang dan banyak memakan korban dari pihak Islam dan Kristen. Dampak dari perang salib tersebut, beberapa wilayah kekuasaan Islam berhasil dikuasai oleh tentara Kristen.

Serangan bergelombang Bangsa Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan telah meluluhlantakkan Baghdad dan seluruh penjuru wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyah. Tragedi kemanusian berupa penganiayaan dan penyiksaan berlangsung kurang lebih 40 hari dengan jumlah korban yang mencapai ratusan ribu umat Islam pada waktu itu. Terbunuhnya Khalifah Al-Mu`tashim menjadi penanda akhir dari Daulah Abbasiyah.

Runtuhnya kekuasaan Islam tidak hanya dialami oleh Daulah Abbasiyah. Di belahan bumi yang lain juga mengalami peristiwa yang hampir sama. Daulah Bani Ahmar di Andalusia juga berakhir dengan tragis. Khalifah terakhir diusir dari Andalusia, bahkan seluruh umat Islam di Andalusia dipaksa meninggalkan Andalusia atau tetap di Andalusia namun berpindah keyakinan.

Daulah Mughal di India juga mengalami hal serupa. Rapuhnya kondisi dalam negeri Daulah Mughal membuka kesempatan Imperium Inggris berhasil masuk dan meruntuhkan kejayaan Mughal dan kemudian menguasainya. Penjajahan ini kemudian berlangsung sampai negara India berhasil memerdekakan diri.

Dari bebepa pelajaran di atas, Syekh Amir Syakib Arselan mengungkap beberapa alasan mengapa umat Islam mundur dan sulit untuk maju.

1.          Umat Islam sudah tidak benar-benar mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan syari`at, khususnya Alquran dan al-Hadis. Padahal itu adalah sumber pedoman hidup kita agar bahagia dunia dan akhirat. Nabi SAW bersabda: “Aku tinggalkan bagimu dua perkara, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu kitab Allah dan Sunnah Rasul (hadis).

2.          Umat Islam tidak mau bersatu dan terpecah belah. Padahal ummat Islam diperintahkan untuk bersatu. Allah sudah mengingatkan kepada kita . QS. Ali Imran

: 103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu

(masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni'mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

3.          Mayoritas umat Islam terlalu cinta dunia dan takut mati. Kebanyakan umat Islam lebih mementingkan kehidupan dunia dan melupakan akherat. Padahal jelas-jelas kehidupan dunia ini hanya fatamorgana dan telah dicontohkan oleh generasi pendahulu Islam mereka ikhlas betul dalam menjalankan misi sebagai hamba Allah Swt tanpa melupakan kewajibannya untuk beribadah kepada Allah Swt.

4.          Mundurnya umat Islam disebabkan hilangnya semangat Jihad. Jihad adalah satu kesungguhan untuk berjuang di jalan Allah Swt. Jihad adalah perjuangan yang sungguh-sungguh yang dilakukan karena panggilan Illahi, yaitu perjuangan sungguh-sungguh dengan mengerahkan segala potensi dan kemampuan yang dimiliki untuk mencapai tujuan, khususnya dalam mempertahankan kebenaran, kebaikan dan keluhuran.

 

C.     Penjajahan Bangsa Barat Atas Dunia Islam

Kebangkitan bangsa Barat bemula dari semangat keilmuan yang begitu tinggi, telah membawa bangsa Barat pada penemuan-penemuan baru dan banyak melakukan penjelajahan samudera, serta revolusi industri hingga berakibat pada imperialisme terhadap bangsa-bangsa Islam pada khususnya.

Perjalanan bangsa Barat ke Timur Tengah dimulai ketika Daulah Usmani mengalami kemunduran sementara bangsa-bangsa Barat mulai mengalami kemajuan di segala bidang, seperti perdagangan, ekonomi, industri perang dan teknologi militer. Meskipun demikian, nama besar Turki Usmani masih disegani oleh Eropa sehingga mereka tidak melakukan penyerangan ke wilayah-wilayah kekuasaan kerajaan Islam. Namun, kekalahan besar Kerajaan Usmani dalam menghadapi serangan bangsa Eropa di Wina tahun 1683 M membangkitkan kesadaran bangsa Barat bahwa Turki Usmani telah melakukan perubahan-perubahan

Ekspedisi Inggris, Portugis, Belanda, dan Spanyol dari abad ke 15 sampai 19 M di kawasan perdagangan internasional Malaka, Gujarat, dan lainnya, telah membuka mata mereka terhadap bangsa-bangsa Islam.

Misi politik untuk menguasai negara-negara Islam digalakkan dengan devide et impera (politik pecah belah), yaitu penjajah dengan segala cara menciptakan pemisah antara kaum bangsawan dan rakyat kecil. Demikian halnya antara satu penguasa dan penguasa negara Islam yang lain.

Setelah bangsa Barat menguasai ekonomi dan politik negara-negara Islam, terdapat pula negara Barat yang menjajah dunia Islam dengan melakukan penyebaran agama Kristen melalui missionaris atau zending.

Bangsa Barat yang memiliki ketiga motivasi ini adalah Spanyol dan Portugis. Hal terebut tercermin pada semboyan mereka, yaitu Gold (semangat untuk mencari keuntungan), Glory (Semangat untuk mencapai kejayaan dalam bidang kekuasaan), dan Gospel (semangat untuk menyebarkan agama Kristen di negara Islam yang dijajah).

Imperialisme bangsa Barat telah berdampak luas kepada hampir seluruh negara- negara muslim. Negara-negara Islam yang pertama kali dikuasai oleh Barat adalah negara-negara Islam di Asia Tenggara dan di Anak Benua India. Sedangkan negara- negara Islam di Timur Tengah, yang masih berada di bawah kekuasaan kerajaan  Usmani, baru berhasil ditaklukkan pada masa berikutnya.

Dengan persenjataan yang lebih modern, bangsa Eropa mampu menguasai daerah-daerah kekuasaan Islam. Bangsa-bangsa Eropa menjajah satu demi satu negara Islam.

Perancis menduduki Aljazair pada tahun 1830, dan merebut Aden dari Inggris pada tahun 1839. Tunisia ditaklukkan Perancis pada tahun 1881, Mesir dijajah oleh Inggris (1882 M), Sudan dijajah oleh Inggris pada tahun 1889, Maroko dijajah oleh Perancis tahun 1911 M, Libya dijajah oleh Italia tahun 1911 M. Sementara itu, wilayah Islam di Asia Tengah juga tak luput dari penjajahan Barat.

Wilayah Jazirah Arab juga tidak luput dari sasaran penjajahan. Suriah dan Lebanon juga pernah dikuasai oleh Perancis (1918 M), Palestina dan Yordania juga pernah dikuasai oleh Inggris. Di belahan belahan bumi lainnya, Rusia menjajah wilayah Islam di Asia Tengah, seperti Kaukasia (1834-1859), Samarkand dan Bukhara (1866- 1872), dan Uzbekistan (1873-1887). Hal tersebut merupakan imbas dari Perjanjian San Stefano dan perjanjian Berlin antara Rusia dan Turki Usmani.

Demikianlah, Islam mengalami krisis berkepanjangan, ditambah rongrongan bangsa-bangsa kapitalis yang merusak seluruh tatanan politik, ekonomi, sosial dan budaya hingga moralitas bangsa-bangsa Islam. Hal ini tentunya berdampak terhadap kebudayaan dan perabadan bangsa-bangsa Islam yang telah dibangun dengan susah

payah penuh perjuangan. Dinamika keislaman menjadi mati suri di bawah pengaruh imperialisme bangsa Barat.

 Absensi Kelas XIMA


Jumat, 13 November 2020

Aqidah A XI MA



 Assalamualaikum wr wb
Selamat pagi anak2 semoga pagi ini semua dalam keadaan sehat. untuk pembelajaran daring hari ini tugas yg Sabtu yg kmrn blm di kerjakan saya tunggu hari .
Diantara tugas yg di kerjakan
1. Uji kompetensi 1 hal 6 no (1-15) pilihan ganda
2. Uji kompetensi 2 hal  16 no (1-20) pilihan ganda





Tolong buka LKS bab 7 hal 9 kemudian kerjakan tugas hal uji kompetensi 2 /B hal 18 hasil kerjaan kamu tolong kirim wa ke no saya dan jangan lupa absen di bawah ini . makasih selamat mengerjakan

 NB: bagi yg belum ambil LKS semester genap secepatnya di ambil d wali kelas

Absensi kehadiran 


Rabu, 04 November 2020

SKI XI MA

 -


Assalamualaikum....ank2 kls XI MA selamat pagi dan somoga hari ini klian semua dalsm keadaan sehat.amiin🤲🏻.ank2 untuk materi SKI hari ini tentang kemunduran Islam  .kalian buka  LKs kalian dan baca  bab 1 kemudian kerjakan uji kompetensi 1 B kemudian kirim WA ke saya 




                                                                                                       MASA KEHANCURAN  BANI  ABASIYAH

     Hancurnya bani Abasiyah diawali  dari  beberapa  titik perkembangan, perebutan  kekuasaan dalam  istanah terutama  pada khalifah  ke  10  dan  seterusnya. Perang  salib  tahun       1095 -1289 M. yang  berlangsung selama  2  abad  kuran lebih, penyerangan tentara  Mongol yang  dipimpin  oleh Jengis khan  di lanjutkan oleh  cucunya  Hulagu khan yang  akumulasi  penyeangannya terjad tahun 1258 M,  dan berdirinya krajaan Tuki  Usmani Di hampir  semua bekas  wilayah Abasiyah yang telah  lepas dari  Bagdad  sebgai  pusat bani Abasiyah”.

 

1.      Faktor Penyebab Munculnya Pemberontakan Masa Abasiyah

            Pemberontakan  terjadi  hampir  di setiap pemerintahan  termsuk  pada  masa pemerinta

            han Abasiyah. Gambaran terjadinya pembrontakan masa Abasiyah  iu dapat  disimpulkan

            dalam beberapa  point sebagai  berikut;

            a.Perebutan Kekuasaan

            b.Balas  Dendam

            c.Praktek Perilaku Amoral dari khalifah  dan  pembesar  istanah

            d.Sistem Peralihan Kekusaan Monarchi

            e.Ketidak puasan Mayarakat  terhadap pelayanan pemerintah

                        Perebutan  kekuasaan dalam masa pemerintahan Abasiyah terjadi sejak dua  putra

            Harun  al Rasyid ditetapkan sebagai  khalifah penggnti  bapaknya. Apakah putra mahkota           al Amin  atau adiknya  al Makmum pada  satu  tahun  berjalan. Dalam masyarakat Islam

            Abasiyah terjadi saling menjagokan masing-masing calon. Di  satu pihak ada  yang menja

            gokan Al Amin , dipihak yang lain ada  juga  yang menjagokan Al  Makmum sebagai

            khalifah. Kondisi  ini terjadi  sampai stu  tahun berjalan  baru pemerintah dapat memutus

            kan  Al Amin menjadi  khalifah  ke 6, selanjutnya   al  Makmum  menjadi  khalifahke 6 

            setelah al Amin. Dalam  sejarah perkembangan  bani Abasiyah disebutkan  sebagai awal

            perebutkan kekuasaan  di  bani Abasiyah

 

        2.Faktor  Penyebab Runtuhnya Bani Abasiyah

Faktor Kehancurnya  Abasyah di sebabkan oleh dua  factor  besar,yaitu  factor internanl

dan  eksternal;

a.      Faktor Internal

            Perebutan kekuasaan  berkepanjangan dalam  istana  Abasiyah menimbulkan preseden

            buruk dari masyarakat. Ditambah  dengan perilaku  amoral  yang ditunjukan  oleh para 

            khalifah dan pembesar istana mulai darikhalifah 10 dan seterusnya. Perebuatan   kekua 

saan bagi sebuah kerajaan yang memakai pola pengangkatan kepemimpinan, “monarchi oriented”. Adalah sebuah  kenistaan,  karena putra mahkota  yang lebih dari satu  tidak  akan pernah memberi ruang bagi sesama  kandidat. Dan  hal  itu  terjadi  hampir  di semuah kerajaan Islam mulai  dari Umaiyah  1, Abasiyah, Umaiyah 2 Andalusia, Turki Usmani, Persia dan Mughal India.

            Praktek-praktek amoral  yang  dilakukan oleh  khalifah  adalah  setiap ahir tahun berjalan,

dengan  mengadakan acara – acara  serimonial di  istana  untuk menghibur  khalifah  dan para pembesar istana dengan  alasan refresing. Yang  terjadi adalah  mendatangkan para wanita-wanita penghibur  dan membeli berbagai macam minuman keras dengan berbagai

            merek dari negara-negara barat. Tujunnya adalah unuk menghibur  para  khalifah  dan

            pembesar  yang bekerja  setahun penuh. Pertanyaannya  adalah ,apakah tidak  ada cara

     lain untuk menghibur khalifah  dan  para pembesar selain  yang  amoral tersebut ? Kenya

            taan  dalam  sejarah bahwa, acara-acara  tesebut  yang  dipraktekan  secara  rutin oleh

            para  pembesar  istana. Akibatnya  adalah  bisa  dibayangankan bahwa  masyarakat  benci

            kepada para khalifah dan pembesar. Kebencian terhadap pemerintahan Abasiyah  itu me

            rata hampir  di semuah wilayah Abasiyah, puncak ketidaksenangan mansyarakat itu  ada

            lah banyak  wilayah yang lepas dan minta  merdeka  dari pusat pemerintahan Abasiyah,. 

Dalam sejarah Islam kondisi ini disebut masa disiintegrasi. Kondisi  semacam inI puncaknya  terjadi pada abad ke  X M, sehingga ketika terjadi Perang  Salib  pertama abad ke X, umat  Islam  tidak  dapat menahan serangan pasukan Salib dan  kalah dalam perang.    

   

b.      Faktor Eksternal

            505  tahun perjalaan bani Abasiyah memberikan  pengaruh besar terhadap perkembangan

Peradaban dunia, terutama pada periode klasik atau abad pertengan.Tumbuh pesatnya ilmu pengetahuan pada  abad  pertengan tersebut menyebabkan umat  Islam lengah dan se

lanjutnya menjadi hancur. Ada beberapa proses yang menyebabkan umat  Islam menajadi lemah  dan  kemudian  hancur dari luar;

1.      Wilayah Abasiyah yang terlalu luas

Luasnya wilayah Abasiyah menyebabkan banyak wilayah yang secara  geofrafis jauh  dari pusat pemerintahan Bagdad tidak di pantau dan dibina secara intensif oleh pemerintah Abasiyah. Luasnya wilayah juga menyebabkan pemerintah  tidak  adil  dalam memberikan hak wilayah bagian dari baitul maal untuk pembangunan infrastruktur berupa bangunan fisik,  seperti  irigasi, jalan raya, jembatan pnghubung kota dan  sarana pendidikan. Sementra kewajiban  wilayah-wilayah  bagian hars disampaikan  secara  rutin ke  baitl  maal (kas  Negara).  Akibatnya banyak  wilayah  bahagian yang lepas  dan minta  merdeka  dari Abasiyah. Seperi Touland dan  Fatimiyah  di Mesir minta  merdeka  dari  Abasiyah , Sabaktakim di wilayah Persia minta merdeka dan Idrisi dan Thohiriyah di Maroko minta merdeka. Masa ini disebut masa disintegrasi  Abasiyah.

2.      Perang Salib,

 Perang  salib  yang berlangsung  selama kurang lebih  200 tahun (1096-1287M). Perang salib berlangsung di wilayah yang merupakan pusat-pusat perkembangan Islam, dimana banyak fasilitas  pendidikan dan fasilitas umum yang  rusak, sekolah,  masjid,  istanah dan lembaga-lembaga  pemerintah  atau umum yang  rusak. Selain  itu banyak masyarakat yang ikut  korban akibat  dari perang yang berlangsung selama kuran lebih 200 tahun.,  baik itu  dari  pihak  nasrani maupun  dari  pihak Islam.

3.      Serangan Tentara Mongol

Penyerangan Mongol di lakukan mulai tahun 1220 M oleh penguasa Timur Leng, Jengis Khan. Penyerangan  di mulai dari  dua  pusat  peradaban Abasiyah  di wilayah Tranxiaonia, Bukhara  dan Samarkan. Selanjutnya penyerangannya dilanjutkan  di ke daerah Abasiyah lainnya,Tajekistan, Turkistan, Armenia daerah sampai ke Anatonia.     Terakhir  tahun1258M penyerangan di arahkan ke pusat kekuasaan Abasiyah; mulai dari Syiria,  Kufah, Jaffa, Hira,  Anhar,  Damaskus dan kota Bagdad sebagai pusat kekuasaan Abasiyah tahun 1258 M dengan cara kota Bagdad di bakar dan bumi hanguskan.

4.      Berdiri Turki Usmani

Berdiri kerajaan Turki Usmani tahun 1292 M dengan membawa misi untuk menyelamatkan wilayah-wilayah Abasiyah yang telah  dihancurkan pasukan Mongol ternyata dalam kenyataannya justru ikut memperparah kehancuran Abasiyah Di wilayah-wilayah Abasiyah yang berdekatan dengan berdirinya Turki  Usmani yaitu  justru  terjadi perang  terbuka yang menyebabkan tambah  parah kekuasaan Abasiyah. 


presensi kehadiran tolong klik link di bawah ini 

SKI XII MA

BAB I

 SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI ASIA TENGGARA


Sejarah Perkembangan Islam di Thailand

Thailand biasa disebut juga Muangthai, atau Muangthai Risabdah, atau Siam, atau negeri gajah putih, terletak di sebelah utara Malaysia, dan sering dilukiskan  sebagai bunga yang mekar diatas sebuah tangkai. Thailand berarti negeri yang merdeka, karena memang merupakan satu-satunya negeri di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah oleh kekuasaan barat atau Negara lain. Di Thailand, negeri yang mayoritasnya beragama Budha, terdapat lebih dari 10% penduduk muslim dari seluruh populasi penduduk Thailand yang berjumlah kurang lebih 67 juta orang. Penduduk muslim Thailand sebagian besar berdomisili di bagian selatan Thailand, seperti di propinsi Pha Nga, Songkhla, Narathiwat dan sekitarnya yang dalam sejarahnya adalah bagian dari Daulah Islamiyyah Pattani.

 

Islam masuk ke Thailand sejak pertengahan abad ke-19. Proses masuknya islam di Thailand dimulai sejak kerajaan Siam mengakuisi kerajaan Pattani Raya (atau lebih dikenal oleh penduduk muslim Thai sebagai Pattani Darussalam). Pattani berasal dari  kata Al Fattani yang berarti kebijaksanaan atau cerdik karena di tempat itulah banyak lahirulama dan cendekiawan muslim terkenal. Berbagai golongan masyarakat dari tanah Jawa banyak pula  yang menjadi pengajar Al Qur’an dan kitab-kitab islam berbahasa Arab Jawi. Beberapa kitab Arab Jawi sampai saat ini masih diajarkan di beberapa sekolah muslim dan pesantren di Thailand Selatan.

Perkembangan  islam di Thailand semakin  pesat saat beberapa pekerja muslim dari Malaysia dan Indonesia masuk ke Thailand pada akhir abad ke-19. Saat itu mereka membantu kerajaan Thailand membangun  beberapa kanal dan system perairan di Krung Theyp Mahanakhon (sekarang dikenal sebagai Propinsi Bangkok). Beberapa keluarga muslim bahkan mampu menggalang  dana dan mendirikan masjid sebagai saran  ibadah, sebuah masjid yang didirikan pada tahun 1949 oleh warga  Indonesia dan komunitas muslim asli Thailand. Tanah wakaf masjid ini adalah milik Almarhum Hjai Saleh, seorang warga Indonesia yang bekerja di Bangkok.

 

Dengan jumlah umat yang menjadi minoritas ini, walau menjadi agama kedua terbesar setelah Budha, umat Islam Thailand sering mendapat serangan dari umat Budha (umat Budha garis keras), intimidasi. Islam berada di daerah yang sekarang menjadi bagian Thailand Selatan sejak awal mula penyebaran Islam dari jazirah Arab. Hal ini bisa kita lihat dari fakta sejarah, seperti lukisan kuno yang menggambarkan bangsa Arab di Ayuthaya, sebuah daerah di Thailand. Dan juga keberhasilan bangsa Arab dalam mendirikan Daulah Islamiyah Pattani menjadi bukti bahwa Islam sudah ada lebih dulu sebelum Kerajaan Thai.Dan lebih dari itu, penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara merupakan suatu kesatuan dakwah Islam dari Arab, di masa khilafah Umar Bin Khaththab. Entah daerah mana yang lebih dahulu didatangi oleh utusan dakwah dari Arab, akan tetapi secara historis, Islam sudah menyebar di beberapa kawasan Asia Tenggara sejak lama, di Malakka, Aceh (Nusantara), serta Malayan Peninsula termasuk daerah melayu yang berada di daerah Siam (Thailand). Secara garis besar, masyarakat muslim Thailand  dibedakan menjadi 2; masyarakat muslim imigran (pendatang) yang berlokasi di kota Bangkok dan Chiang Mai ( Thailand tengah dan utara), dan masyarakat muslim penduduk asli, yang berada di Pattani (Thailand selatan). Tetapi dalam tatanan sosial, muslim Thailand mendapat julukan yang kurang enak, yaitu khaek (pendatang, orang luar, tamu). Istilah ini juga digunakan untuk menyebut tamu-tamu asing atau imigran lain.

 

Masjid Jawa adalah masjid lain yang juga didirikan oleh komunitas warga muslim Indonesia di Thailand. Sesuai dengan namanya, pendiri masjid ini adalah warga Indonesia suku Jawa yang bekerja di Thailand. Namun  demikian, anak cucu para pendiri masjid ini berbicara dalam bahasa Thai  dan Inggris saat menceritakan asal muasal berdirinya Masjid Jawa ini. Masjid Indonesia dan Masjid Jawa hanyalah sebagian  dari lima puluhan masjid lain yang tersebar di seluruh penjuru  Bangkok.

 

Budha adalah agama terbesar di Thailand dan resmi menjadi agama kerajaan. Kehidupan Budha telah mewarnai hampir seluruh sisi kehidupan di Thailand, dalam pemerintahan (kerajaan), sistem dan kurikulum pendidikan, hukum, dan lain sebagainya. Namundapat agama-agama lain, diantaranya adalah Islam, Kristen, Konghucu,  Hindu dan Singh. Dan Islam sendiri, setelah meng-alami konflik yang berkepanjangan, akhirnya Islam di Thailand menemui titik kemajuan. Pemerintah memahami betul bahwa upaya untuk menciptakan perdamaian dengan kekuatan militer tidak membuahkan hasil, bahkan memperparah keadaan dan melahirkan perlawanan. Sehingga akhirnya pemerintah, dalam hal ini kerajaan, memberi kesempatan bagi warga muslim untuk beribadah dan menganut kepercayaan masing-masing. Bahkan, Raja Thailand juga menghadiri perayaan acara dan hari-hari penting dalam Islam. Pemerintah juga memperbolehkan warga muslim Thailand untuk menyelenggarakan pendidikan Islam. Kesempatan ini tidak dilewatkan oleh umat Islam untuk mengembangkan pendidikan Islam disana. Proses pendidikan Islam di Thailand sudah mengalami perkembangan dan kemajuan. Hal itu bisa kita lihat dari kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh beberapa lembaga Islam. Seperti pengajian bapak-bapak dan ibi-ibu, TPA/TKA dan kajian mingguan mahasiswa adalah beberapa kegiatan rutin yang diadakan mingguan. Masyarakat dan Pelajar Muslim Indonesia juga mengadakan silaturrahim bulanan dalam forum pengajian Ngaji- khun, yang dilaksanakan di berbagai wilayah di Thailand. Kabar baiknya, pemerintah membantu penerjemahan Al Quran ke dalam bahasa Thai, juga membolehkan warga muslim mendirikan masjid dan sekolah muslim. Kurang lebih tercatat lebih dari 2000 masjid , dan 200 sekolah muslim di Thailand. Umat islam di Thailand bebas mengadakan pendidikan dan acara-acara keagamaan. Tidak hanya itu saja. Program pengembangan pendidikan Islam di Thailand sudah mencapai level yang lebih dari sekedar nasional dan regional. Umat muslim Thailand bekerjasama dengan beberapa lembaga pendidik an negara lain, baik yang nasional maupun internasional untuk mengadakan seminar internasional pendidikan Islam. Mereka me-ngirimkan kader-kadernya ke berbagai universitas dunia, seperti Al Azhar Mesir dan Madinah. Dan juga beberapa universitas tanah air, seperti UII, UIN, Universitas Muhammadiyah dan lainnya. Termasuk juga mengirimkan putra-putra Thailand ke berbagai pesantren di Indonesia, termasuk Gontor. Pusat dakwah Islam terbesar di Bangkok terletak di Islamic Center Ramkamhaeng. Hampir semua aktifitas keislaman mulai dari pengajian, layanan pernikahan, serta makanan halal dapat ditemukan. Salah satu orang yang berjasa di bidang sertifikasi makanan halal adalah Winai Dahlan (cucu dari KH Ahmad Dahlan), yang sudah puluhan tahun tinggal dan menjadi warga Thailand, yang menjabat sebagai direktur dari Halal Science Center di Universitas Chulalongkorn, yang giat melakukan promosi mengenai makanan halal ke seluruh dunia.


Absensi Kelas XIIC MA


Soal Tryout UAMNUBK MA

 soal aqidah  Soal Try out Aqidah Akhlak UAMNUBK MA