Rabu, 23 Februari 2022

ski xic

Kamis, Februari 2022

GERAKAN PEMBARUAN DALAM ISLAM

Modernisasi dalam Islam atau yang kemudian terkenal dengan Pembaruan Islam muncul sebagai hasil dari interaksi dunia Islam dan dunia Barat. Dengan adanya kontak antara Islam dan Barat, umat Islam menyadari bahwa ternyata Barat telah melesat menjadi bangsa yang lebih maju dalam berbagai bidang, baik dari sisi politik, ekonomi, sains dan ilmu pengetahuan.

Jauh sebelum Barat menjadi bangsa yang modern, Islam telah terlebih dahulu tampil sebagai bangsa yang maju dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban. Para ilmuwan- ilmuwan muslim telah membuat bangsa Barat berbondong-bondong belajar terhadap  ilmuwan muslim. Namun di abad XIX, dunia Islam dikejutkan oleh kehebatan sains dan industri yang dimiliki oleh Barat.

Betapapun inovasi yang dilakukan oleh ilmuwan muslim, para ulama atau pakar di zaman lampau tetap ada kekurangannya dan selalu dipengaruhi oleh kecenderungan, pengetahuan, situasi sosial, dan lain sebagainya. Paham-paham tersebut di masa sekarang mungkin masih banyak yang relevan dan masih dapat digunakan, tetapi mungkin sudah banyak yang tidak sesuai lagi. Sementara di sebagian dunia yang lain, mereka (Bangsa Barat) telah jauh lebih berkembang dan maju.

Runtuhnya Daulah Islamiyah tidak serta merta menghilangkan ulama-ulama yang masih terus bertahan dengan keteguhan ilmunya, sehingga keberlangsungan dinamika ilmiah masih terus berkembang. Namun suasana politik dan dinamika sosial yang berkembang turut mempengaruhi kecenderungan para ulama dalam membuahkan karya-karya mereka. Para ulama cenderung kurang produktif dalam menuangkan ide-ide ilmiahnya.

Kondisi Ekonomi dunia Islam yang cenderung terpuruk karena imperialisme bangsa Barat menambah berat laju perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Perilaku manusia yang sudah cenderung hedonis sedikit demi sedikit mengikis keyakinan dan ketaatan terhadap Allah Swt. Umat Islam banyak yang cenderung memilih untuk melanjutkan kelangsungan hidupnya masing-masing.

Keterpurukan umat Islam pada masa penjajahan tidak boleh berlangsung berkepanjangan. Umat Islam harus bangkit, umat Islam harus sadar untuk menatap kembali masa depan yang lebih baik mengikuti tuntunan yang sudah digariskan dalam Al-Qur`an dan Hadis. Umat Islam jangan sampai lalai dengan kejayaan dan kemajuan yang pernah diraih, jauh pada masa sebelumnya. Umat Islam harus melakukan perubahan dan pembaruan untuk mewujudkan dinamika Islam yang lebih modern.

 A.            Pengertian Pembaruan

Pembaruan dalam Islam adalah upaya-upaya untuk menyesuaikan paham keagamaan Islam dengan perkembangan baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Dalam bahasa Arab, gerakan pembaruan Islam disebut tajdid. Secara harfiahtajdid berarti pembaruan dan pelakunya disebut mujaddid. Islam sebenarnya telah memiliki tradisi pembaruan karena ketika menemukan masalah baru, kaum muslim segera memberikan jawaban yang didasarkan atas doktrin- doktrin dasar kitab dan sunnah. Rasulullah pernah mengisyaratkan bahwa “sesungguhnya Allah akan mengutus kepada umat ini (Islam) pada permulaan setiap abad orang-orang

yang akan memperbaiki, memperbaharui, agamanya” (HR. Abu Daud).

Istilah pembaruan baru terkenal dan populer setelah munculnya semangat pemikiran dan gerakan pembaruan Islam, menyusul kontak politik dan intelektual  dengan Barat. Tepatnya abad XVIII, pada waktu itu baik secara politis maupun secara intelektual, Islam telah mengalami kemunduran, sedangkan Barat dianggap telah maju dan modern. Kondisi seperti itu menuntut umat Islam untuk melakukan pembaruan dalam berbagai bidang.

Istilah tajdid itu sendiri memiliki arti lain yang lebih luas, di antaranya adalah reformasipurifikasimodernisme dan sebagainya. Istilah yang beragam itu mengindikasikan bahwa hal itu terdapat variasi entah pada aspek metodologi, doktrin maupun solusi, dalam gerakan tajdid yang muncul di dunia Islam.

Gerakan pembaruan Islam dapat ditelusuri akarnya pada doktrin Islam itu sendiri. Gerakan pembaruan mendapatkan momentum ketika Islam berhadapan dengan modernitas pada abad ke-19. Kontak langsung antara Islam dan modernitas yang berlangsung sejak Islam sebagai kekuatan politik mulai merosot pada abad ke-18 merupakan agenda yang menyita banyak energi di kalangan intelektual muslim.

 

B.             Biografi Tokoh-tokoh Pembaruan Dalam Islam

Berikut ini adalah biografi tokoh-tokoh pembaru dalam Islam:

1.Muhamamd Ali Pasha (1765-1849 M)

Muhammad Ali Pasha lahir bulan Januari 1765 di Kawalla Albania Yunani dekat pantai Macedonia dan meninggal di Mesir pada tahun 1849. Negeri ini telah menjadi bagian negara Daulah Usmani sejak ditaklukkannya oleh Sultan Muhammad II al-Fatih pada tahun 857 H/1453 M dan baru dapat melepaskan diri. dari kekuasaan Istanbul pada tahun 1245/1829 M. Ayah Muhammad Ali Pasha bernama Ibrahim Agha, seorang imigran Turki, kelahiran Yunani. Sejak kecil, Muhammad Ali Pasha memiliki keterampilan dan kecerdasan luar biasa.

Dalam perjalanan kariernya, banyak usaha yang dilakukan untuk memperbaharukan atau memodernisir keadaan umat Islam yang telah jauh tertinggal dari negara-negara Barat. Setelah besar ia bekerja sebagai pemungut pajak, karena kecakapannya dalam pekerjaannya ini ia menjadi kesayangan Gubernur Daulah Usmani setempat, akhirnya ia diangkat sebagai menantu oleh gubernur tersebut dan mulai dari waktu itu kariernya semakin meningkat.

Muhammad Ali Pasha diangkat menjadi menantu Gubernur Usmani di tempatnya bekerja. Setelah masuk dalam dinas militer, ia juga menunjukkan kecakapan dan kesanggupan sehingga pangkatnya cepat naik menjadi perwira. Ketika pergi ke Mesir ia mempunyai kedudukan wakil perwira yang memimpin pasukan yang dikirim dari daerahnya. Setelah tentara prancis keluar dari Mesir di tahun 1801. Muhammad Ali Pasha turut memainkan peran penting dalam dunia politik.

Muhammad Ali Pasha mewariskan peninggalan yang megah di perbukitan Jabal Muqatam. Dengan mengerahkan desainer Yunani bernama Yusuf Bushnak akhirnya berhasil membuat Masjid indah dengan corak menara Turki yang berwarna putih perak. Masjid tersebut terbuat dari bahan marmer yang menawan, penduduk Mesir menamainya sebagai masjid Alabaster. Muhammad Ali Pasha meninggal dunia pada tahun 1849 M di Alexandria kemudian jenazahnya dimakamkan di komplek masjid Alabaster.

 

2.                               Jamaluddin Al-Afghani (1838-1897 M)

JamaluddinAl-Afghani dilahirkan di Asadabad, dekat Kanar di Distrik Kabul, Afghanistan, pada tahun 1838 M (1254 H). Al-Afghani menghabiskan masa kecilnya di Afghanistan, namun banyak berjuang di Mesir, India bahkan Perancis. Dalam usia 18 tahun, Al-Afghani tidak hanya menguasai ilmu keagamaan tetapi juga mendalami filsafah, hukum, sejarah, metafisika, kedokteran, sains, astronomi dan astrologi.

Jamaluddin al-Afghani adalah salah seorang pemimpin pergerakan Islam pada akhir abad XIX. Ayah Afghani, adalah Sayyid Sand, dikenal dengan gelar Shadar Al-Husaini. Ayahnya tergolong bangsawan terhormat dan mempunyai hubungan nasab dengan Hussein Ibn Ali r.a., dari pihak Ali At-Tirmizi, seorang

perawi hadis. Oleh karena itu, pada nama depan Jamaluddin Al-Afghani diberi tambahan Sayyid.

Al-Afghani melanjutkan belajar ke India selama satu tahun. Di India Afghani menekuni sejumlah ilmu pengetahuan melalui metode modern. Didorong keyakinannya, Al-Afghani melanglang buana ke berbagai negara. Dari India, Al- Afghani melanjutkan perjalanan ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Sepulangnya ke Kabul Al-Afghani diminta penguasa Afghanistan Pangeran Dost Muhammad Khan, untuk membantunya. Tahun 1864, Al-Afghani diangkat menjadi penasehat Shir Ali Khan, dan beberapa tahun kemudian diangkat menjadi Perdana Menteri oleh Muhammad A’zam Khan. Namun karena campur tangan Inggris, Al- Afghani akhirnya meninggalkan Kabul ke Mekkah. Inggris menilai Al-Afghani sebagai tokoh berbahaya karena ide-ide pembaruannya, oleh karenanya pihak Inggris terus mengawasinya.

 3.                               Muhammad Abduh (1849 – 1905 M)

Muhammad Abduh lahir di pedusunan delta Nil Mesir pada tahun 1849. Keluarganya terkenal berpegang teguh kepada ilmu dan agama. Dalam usia 12 tahun Muhammad Abduh telah hafal al-Qur’an. Kemudian, pada usia 13 tahun ia dibawa ke Tanta untuk belajar di Masjid Al-Hamdi. Masjid ini sering disebut Masjid Syeikh Ahmad, yang kedudukannya dianggap sebagai level kedua setelah Al-Azhar.Di masjid ini Muhammad Abduh menghapal dan belajar al-Qur’an selama 2 tahun.

Pada saat Muhammad Abduh berumur 16 tahun, tepatnya pada tahun 1865, Muhammad Abduh menikah dan bekerja sebagai petani. Namun hal itu hanya berlangsung selama 40 hari, karena kemudiania pergi ke Tanta untuk belajar kembali. Pamannya, seorang Syekh (guru spiritual) Darwisy Khadr seorang ulama shufi dari Tarekat Syadzili telah membangkitkan kembali semangat belajar dan antusiasme Abduh terhadap ilmu dan agama.

Syeikh ini mengajarkan kepadanya disiplin etika dan moral serta praktek kezuhudan tarekat nya. Meski Muhammad Abduh tidak lama bersama Syeikh Darwisy, sepanjang hidupnya Muhammad Abduh tetap tertarik kepada kehidupan ruhaniah tasawuf. Namun kemudian dia jadi kritis terhadap banyak bentuk lahiriah dan ajaran tasawuf, dan karena kemudian dia memasuki kehidupan Jamaluddin Al- Afghani yang karismatis itu.

Tahun 1866 Muhammad Abduh meninggalkan isteri dan keluarganya menuju Kairo untuk belajar di Al-Azhar. Tiga tahun setelah Muhammad Abduh di Al-Azhar,

Jamaluddin Al-Afghani datang ke Mesir. Di bawah bimbingan Al-Afghani, Muhammad Abduh mulai memperluas studinya sampai meliputi filsafat dan ilmu sosial serta politik. Sekelompok pelajar muda Al-Azhar bergabung bersamanya, termasuk pemimpin Mesir di kemudian hari, Sa’dZaghlul. Al-Afghani aktif memberikan dorongan kepada murid-muridnya ini untuk menghadapi intervensi Eropa di negeri mereka dan pentingnya melihat umat Islam sebagai umat yang satu.

Muhammad Abduh meninggal pada tanggal 11 Juli 1905. Banyaknya orang yang memberikan hormat di Kairo dan Alexandria, membuktikan betapa besar penghormatan orang kepada dirinya. Meskipun Muhammad Abduh mendapat serangan sengit karena pandangan dan tindakannya yang reformatif, terasa ada pengakuan bahwa Mesir.

 

4.                               Muhammad Rasyid Ridha (1865 - 1935 M)

MuḼammad Rasyid Rida lahir di Qalamun, Lebanon dekat dengan Tripoli (Suriyah), 27 Jumadil Ula 1282 H, atau 23 September 1865 M, nama lengkapnya adalah Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsuddin bin Baha'uddin Al- Qalmuni Al-Husaini. Ia dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan keluarga terhormat dan taat beragama. Rasyid Ridha memulai pendidikan dengan membaca Al-Qur'an, menulis dan berhitung di kampungnya, Qalamun, Suriyah.

Muhammad Rasyid Ridha masuk ke Madrasah ar-Rasyidiyah, yaitu sekolah milik pemerintah di Tripoli untuk belajar ilmu bumi, ilmu berhitung, ilmu bahasa, seperti nahwu dan saraf (ilmu tata bahasa Arab); dan ilmu-ilmu agama, seperti akidah dan ibadah. Ketika berumur 18 tahun, Ridha kembali melanjutkan studinya dan sekolah yang dipilihnya adalah Madrasah al-Wathaniyyah al-Islamiyyah yang didirikan Syekh Husain al-Jisr.

Syekh Husain al-Jisr, dikenal sebagai seorang yang sangat berjasa dalam menumbuh kembangkan semangat ilmiah dan ide pembaruan dalam diri Rasyid Ridha di kemudian hari. Di antara pikiran-pikiran gurunya yang sangat mempengaruhi ide pembaruan Rasyid Ridha adalah, satu-satunya jalan yang harus ditempuh umat Islam untuk mencapai kemajuan adalah memadukan pendidikan agama dan pendidikan umum.

Rasyid Ridha juga seorang pengikut Thareqat Naqsyabandiyah. Berdasarkan pengalamannya di dunia tarekat , ia menyimpulkan bahwa ajaran-ajaran tarekat  yang berlebihan dalam cara beribadat dan pengkultusan seorang guru membuat seseorang mempunyai sikap statis dan pasif.

Rasyid Ridha meninggal di Mesir, 22 Agustus 1935 M (1354 H). Kemudian dimakamkan Kairo, Mesir, bersebelahan dengan makam gurunya, Muhammad Abduh

 

5.                               Muhammad Iqbal (1877 – 1938 M)

Muhammad Iqbal terlahir di Sialkot, Punjab, India, 9 November 1877. Leluhurnya termasuk dari kalangan kasta Brahmana dari Kashmir yang telah memeluk agama Islam sekitar tiga abad sebelum Iqbal lahir.Muhammad Iqbal terkenal sebagai seorang sastrawan, filsuf, sekaligus negarawan pada abad XX.

Muhammad Iqbal berkelana belajar ke Eropa selama tiga tahun; mulai dari Cambridge bersama seorang filosof neo-Hegelian, JME McTaggert, kemudian di Heidelberg dan terakhir di Munich. Dia meninggalkan Eropa dengan gelar sarjana hukum dari Inggris dan gelar doktor dari Jerman dengan tesis tentang Mistisisme Persia. Fakta yang lebih penting adalah dia menguasai pemikiran Eropa secara mendalam, sejak teologi Thomas Aquinas hingga filsafat Henri-Louis Bergson dan Nietzsche.

Dalam sastra Urdu, Muhammad Iqbal merupakan salah satu tokoh yang penting. Karya-karnya banyak ditulis dalam bahasa Urdu dan Persia. Sarjana-sarjana sastra Pakistan, India bahkan Indonesia banyak yang mengakui dan mengagumi karya-karya Muhammad Iqbal.The Reconstuction of Religious Thought in Islam (terbitan Lahore, 1951) dapat dikatakan sebagai karya pamuncaknya. Di sanalah, percik-percik gagasannya memancar dan terus menginspirasi hingga sekarang.

Selama bertahun-tahun Muhammad Iqbal memberikan pengaruh yang sangat besar pada perselisihan budaya, sosial, religius dan politik. Muhammad Iqbal meninggal di Lahore, 21 April 1938 pada umur 60 tahun.

 Selamat belajar tolong jangan lupa isi absen di bawah ini

Absensi kehadiran kelas XI C MA

Soal Tryout UAMNUBK MA

 soal aqidah  Soal Try out Aqidah Akhlak UAMNUBK MA